Allah SWT, Maha Tahu Atas Objek Yang Diketahui
Alam tidak bisa lepas dari dua alternatif, pertama alam ada
penciptanya, dan alam tidak ada penciptanya. Kalau alam ada
penciptanya tentu Sang Pencipta tidak bisa terlepas dari dua
alternatif, salah satunya bahwa Dia mesti tahu tentang Apa
yang Dia ciptakan.
Orang-orang yang meyakini tentang Sang Pencipta telah
bersepakat, bahwa Allah SWT adalah Mahatahu . Akan tetapi
mereka berbeda pendapat tentang apa yang diketahui-Nya. Apakah
Ilmu-Nya akan menambah-Nya ataukah tidak? Kesepakatan untuk
menetapkan tentang Ilmu Allah sudah cukup, lalu kami ingin
menambahkan keterangan, bahwa alam tidak bisa lepas dari dua
alternatif: pertama, alam ada Penciptanya atau alternatif
kedua, bahwa alam tidak ada Penciptanya. Kalau alam ini tidak
ada Penciptanya, tentu apa yang telah kami sampaikan di muka
tidak benar. Sementara kalau ada Penciptanya, tentu Sang
Pencipta tersebut tidak bisa lepas dari dua altematif: Dia
menciptakan, dan tahu atau tidak terhadap apa yang Dia
ciptakan. Kalau dikatakan, bahwa Dia menciptakannya dan tidak
tahu tentang apa yang Dia ciptakan, karena Dia terpaksa atau
bodoh, tentu pernyataan demikian adalah tidak benar, sebab hal
itu mustahil, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Dengan
demikian tinggal satu alternatif, yakni Dia mesti tahu tentang
apa yang Dia ciptakan. Kalau dikatakan Dia Mahatahu , hanya
saja Dia tahu secara global (totalitas) dan bukan secara
parsial. Sebab kalau secara parsial akan mengakibatkan
Ilmu-Nya huduts, akibat Dia harus mengetahui apa yang baru
terjadi. Akan tetapi hal itu tidak benar, sebab huduts
tidaklah berbeda-beda. Kalau pernyataan itu benar, tentu kalau
ada sesuatu yang sangat kecil terwujud tanpa sepengetahuan-Nya
tentu bisa saja terjadinya langit tanpa sepengetahuan-Nya
juga.
Kalau dikatakan, "Kami bisa menerima, bahwa Sang Pencipta
tidak akan menciptakan sesuatu kalau Dia tidak tahu tentang
apa yang Dia ciptakan tersebut. Akan tetapi para malaikat yang
diserahi tugas untuk mengurus hal tersebut mengetahui obyek
yang diketahui secara mandiri. Dan inilah tingkat kemiripan
sifat-sifat mereka dengan Sang Pencipta."
Kami jawab, bahwa hal itu sangat mustahil, sebab Sang Pencipta
SWT menurut Anda hanyalah akal murni. Sementara akal murni
yang bersih dari materi disyaratkan harus tidak bodoh terhadap
obyek yang diketahui. Kebodohan yang terjadi pada manusia itu,
karena ia dalam materi, sehingga karena disibukkan oleh suatu
materi, ia pun tidak akan tahu terhadap yang lain.
Anda telah tahu, bahwa langit -menurut pendapat Anda - tahu
tentang apa yang dapat diketahui secara parsial, lalu mengapa
Anda tidak mengharuskan hal itu untuk Allah SWT sebagaimana
menetapkannya untuk langit? Kalau mereka menjawab, "Karena hal
itu akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang baru (huduts)
pada Dzat Allah." Maka dari jawaban tersebut, kami dapat
meluruskan, "Tidak harus demikian, sebab IImu-Nya adalah Qadim
(Mahadahulu tanpa awal) .Dia mengetahui apa yang bakal terjadi
dari berbagai formulasi dan transformasi alam sampai titik
terakhir. Dan atas dalil Anda, dari sisi mengetahui berbagai
sebab yang pertama tentu akan mengetahui sebab-sebab
berikutnya dan seterusnya, karena orang yang tahu, tentu ia
tahu apa penyebabnya. Sedangkan segala sesuatu yang terjadi
tentu ada sebab musababnya, demikian seterusnya hingga titik
akhir dari suatu rangkaian. Lalu sifat baru (huduts) dan
perubahan (taghayyur) itu terjadi terhadap semua makhluk
(hawadits). Sementara hal itu akan berlangsung sesuai dengan
IImu-Nya, sehingga IImu-Nya adalah satu dan tidak berubah.
Sedangkan perubahan yang terjadi itu hanya dari sisi, bahwa
Dia tahu tentang perubahan tersebut, dan itu terjadi secara
sistematis."
Kalau ada pertanyaan, "Apakah IImu-Nya akan menambah pada
Dzat-Nya, ataukah IImu itu sendiri juga Dzat?"
Kami jawab, "Kelompok Mu'tazilah memang berpendapat, bahwa
Dzat-Nya adalah IImu itu sendiri. Sementara kelompok
Asy'ariyyah dan sebagian besar kelompok-kelompok yang lain
berpendapat, bahwa IImu-Nya bukanlah Dzat-Nya. Sementara yang
saya yakini adalah, bahwa Allah SWT Mahatahu, sedangkan dalil
yang membuktikan Kemahatahuan-Nya sudah kami kemukakan
sebelumnya Ini merupakan mukadimah dari mukadimah kedua Kalau
sudah ditetapkan, bahwa Ilmu-Nya akan mengubah Dzat-Nya adalah
mustahil, maka dengan demikian kita akan mengatakan, bahwa
Ilmu itu tidak bisa lepas dari dua kemungkinan Ilmu-Nya adalah
Dzat itu sendiri -sementara saya tidak berkeyakinan- seperti
ini. Atau kemungkinan kedua, bahwa ilmu itu tambahan dari Dzat
Dan inilah aliran (madzhab) yang Anda ikuti.
Kalau Ilmu-Nya itu tambahan dari Dzat, tentu tidak dapat
lepas, dari tiga alternatif Ilmu itu lepas dan berdiri sendiri
tanpa Dzat, atau Ilmu itu adalah sesuatu yang harus wujud
(wajibul-wujud), atau Dzat itu menjadi syarat Ilmu. Kalau
sekarang Ilmu itu lepas dari Dzat dan berdiri sendiri, dan itu
merupakan sesuatu yang qadim, maka akan ada dua Tuhan, Yaitu
Dzat dan Ilmu, sedangkan hal tersebut adalah mustahil.
Kalau ada pertanyaan, "Apakah Dzat merupakan persyaratan
Ilmu?"
Maka kami jawab, "Kalau demikian, maka ia tidak bisa lepas
dari dua kemungkinan. Ia sesuatu yang qadim atau ia sesuatu
yang baru (huduts), Kalau ia qadim tentu tidak dapat
dibenarkan bila sesuatu yang qadim menjadi syarat qadim yang
lain. Kalau Ilmu itu sesuatu yang huduts, maka tidak bisa
lepas dari dua altematif, ia berada pada Dzat Sang Pencipta
atau pada yang lain Kalau Ilmu yang huduts berada pada Dzat
Sang Pencipta, tentu pada Dzat-Nya terdapat sesuatu yang baru,
dan ini tidak benar. Kalau Ilmu berada pada selain Dzat Sang
Pencipta, berarti Ilmu itu bukan termasuk Sifat-sifat-Nya."
Kalau ditanya, "Ini berarti sama dengan aqidah kelompok
Mu'tazilah?"
Saya jawab, "Kami dapat membedakan antara aqidah mereka dengan
aqidah yang kami yakini. Dimana kami berkeyakinan, bahwa Allah
SWT Maha Mengetahui, baik secara global maupun parsial, dan
tidak boleh dikatakan, bahwa Ilmu-Nya adalah Dzat-Nya itu
sendiri dan lain sebagainya. Sebab ketentuan untuk memberikan
Nama kepada Sang Pencipta secara mutlak adalah cara yang
ditempuh oleh syari'at, dan tidak ada ketentuan syari'at yang
menunjukkan, bahwa Ilmu-Nya adalah tambahan dan merupakan
sesuatu yang berdiri sendiri. Akan tetapi hal itu disebutkan
secara mutlak. Sementara banyak alasan rasional yang
menunjukkan, bahwa Allah SWT itu Maha Mengetahui. Dan tidak
dapat dibenarkan bila Ilmu-Nya wujud secara qadim dan berdiri
sendiri, tidak butuh kepada Sang Pencipta SWT. Demikian pula
tidak dapat dibenarkan, bila Ilmu itu qadim tapi butuh
syarat."