Allah SWT, Maha Berkehendak Atas Apa Yang Wujud
Kehendak Tuhan (al-Iradah al-Ilahiyah) adalah suatu ungkapan
tentang ketetapan Allah terhadap suatu perbuatan dengan tidak
akan melupakannya, maka tujuan dan maksud untuk mewujudkan itu
disebut.
Pada bagian ini, kita akan membicarakan masalah Kehendak
(Iradah). Dimana masalah ini menjadi suatu polemik yang cukup
serius. Karena masalah ini pula, sehingga terjadi kevakuman.
Oleh karena itu, insya Allah kami ingin menjelaskan persoalan
ini secara rinci.
Kehendak secara hakiki dan makna yang dapat dipahami adalah
kesepakatan jiwa untuk melakukan perbuatan ketika terwujudnya
kekuatan emosional. Lalu di dalam kekuatan imajinasi terdapat
sesuatu yang menggerakkan untuk melakukan pekerjaan tersebut
karena adanya sesuatu yang disenangi atau ditakuti. Akan
tetapi definisi seperti ini mustahil bagi Dzat Sang Pencipta,
Allah SWT Dengan demikian, Kehendak Tuhan (al-Iradah
al-Ilahiyyah) adalah suatu ungkapan tentang ketetapan Allah
terhadap suatu perbuatan dengan tidak akan melupakannya. Maka
tujuan dan maksud untuk mewujudkan sesuatu itu disebut
Kehendak. Dan pada hakikatnya hal itu bisa diartikan sebagai
munculnya suatu perbuatan dari kekuatan, sehingga menjadi
suatu perbuatan.
Sementara telah dibuktikan dengan dalil, bahwa Allah SWT Maha
Mengetahui, Dia Yang menciptakan alam semesta, dan sudah kita
kukuhkan, bahwa alam ini akan selalu butuh kepada-Nya. Hal itu
juga telah kita sepakati, sekalipun mereka menyebutnya sebagai
sebab (illat), tapi mereka telah menetapkan, bahwa alam tidak
akan eksis tanpa Sang Pencipta. Dia juga Maha Mengetahui alam
ini. Sedangkan Ilmu-Nya tentang hal-hal yang Dia ketahui, baik
yang telah terjadi, sedang dan bakal terjadi adalah satu cara
dan bentuk yang tidak akan berubah. Dia tidak akan bodoh dan
juga tidak akan lupa.
Ilmu, bila dikaitkan dengan-Nya maka Ilmu itu sebelum
pekerjaan dan juga setelahnya untuk selama-lamanya. Kemudian
Ilmu bila dikaitkan dengan apa yang bakal terjadi dari sisi
apa yang diketahui, maka obyek yang diketahui dibedakan
menjadi apa yang telah dan bakal terjadi. Sementara yang bakal
terjadi tetap berada dalam kekuatan, sedangkan yang sudah
terjadi telah keluar menjadi suatu pekerjaan. Akhirnya yang
berubah adalah kondisi obyek yang diketahui, dan bukan
Ilmu-Nya.
Ini adalah kaidah yang cukup sempurna bila Anda memahami
tingkatan ini. Apabila ditetapkan demikian, maka segala yang
ada dalam "Kekuatan" Iradah-Nya adalah yang bakal terjadi.
Maka Allah SWT adalah Maha Berkehendak untuk mewujudkan
sesuatu, dari sisi, bahwa Dia-lah Yang mensistematisasi
seluruh sebab yang berlaku sesuai dengan Ilmu-Nya. Oleh karena
itu, segala sebab akan sesuai dengan apa yang telah Dia
ketahui, sehingga kehendak secara mutlak dalam bahasan ini
dapat diartikan, bahwa apa yang dikehendaki itu telah
diketahui. Sementara sistem analogi akan menyatakan, bahwa
segala yang dikehendaki itu sudah diketahui. Lalu segala yang
diketahui akan berjalan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki,
dan segala yang Dia kehendaki akan berjalan sesuai dengan Ilmu
Allah SWT.
Apabila dibenarkan, bahwa Ilmu merupakan sebab dari yang Dia
kehendaki di dalam "Kekuatan" Iradah-Nya, maka apa yang
dilakukan akan mengikuti apa yang ada di dalam "Kekuatan",
sedangkan masalahnya sudah jelas. Sehingga apa yang keluar
telah menjadi perbuatan, maka kejadian (perbuatan) itu
menunjukkan adanya ketetapan Allah terhadap kejadian tersebut.
Sedangkan ketetapan tersebut adalah yang dituntut dengan
Kehendak yang mengikut pada Ilmu.
Kalau ada pertanyaan, "Lalu apakah yang diketahui itu terbatas
atau tidak?".
Kami jawab, "Pertanyaan ini butuh rincian terlebih dahulu.
Maka si penanya harus menambahkan, bahwa yang terbatas adalah
obyek yang diketahui. Maka suatu keharusan secara rasional,
bahwa obyek yang diketahui itu dalam lingkup, sedangkan apa
yang ada dalam suatu lingkup tentu terbatas, sementara yang
terbatas tentu ada batas akhir. Dengan demikian obyek yang
diketahui adalah berada dalam batas, baik obyek pengetahuan
tersebut berada dalam Kekuatan Iradah atau sudah keluar
menjadi pekerjaan. Dengan demikian, seluruh alam dalam lingkup
lingkaran yang kesembilan dan seluruh yang ada di dalamnya,
dari berbagai jenis, macam dan individu adalah terbatas dalam
Ilmu Allah SWT".
Kalau masih terus ditanya, "Ini dapat kita terima, akan tetapi
sekarang pertanyaannya, apakah Sang Pencipta Maha Mengetahui
tentang sesuatu yang tidak terbatas atau tidak?".
Maka kita jawab, "Ini adalah pertanyaan yang mustahil, dilihat
dari sisi tersebut, sebab seluruh obyek yang diketahui adalah
terbatas, maka pertanyaan seperti ini sangat melenceng dari
kebenaran".
Kalau misalnya ditanya, "Apakah bisa dikatakan, ilmu layak
membatasi terhadap apa yang tidak terbatas ataukah tidak?".
Kami jawab, "Ilmu itu sendiri tidak dapat diterangkan dengan
sifat seperti itu, kecuali bila dikaitkan dengan obyek yang
diketahui. Kalau tidak, maka ciri khusus yang dimiliki oleh
Ilmu itu tidak benar, tapi kalau dikaitkan dengan obyek yang
diketahui, maka obyek tersebut akan terbatas. Dengan demikian,
hanya dapat dikatakan satu cara, bahwa Ilmu itu qadim yang
berkaitan, bahwa alam-alam saling berurutan, sehingga kalau
dikaitkan dengan alam itu sendiri akan terbatas. Akan tetapi
apabila keterbatasan itu dikaitkan dengan Ilmu Allah yang
Qadim tentu tidak benar, sebab Ilmu-Nya itu tidak dapat
dikatakan terbatas atau tidak terbatas. Ini merupakan sumber
kesalahan. Dan barangkali bagi orang yang tidak memahami
hakikat masalah akan mengira, kalau obyek yang diketahui itu
terbatas, tentu Ilmu Allah juga terbatas. Jauh sekali mereka
mampu memahami hakikat sebenarnya. Sementara yang dapat
dikatakan terbatas adalah obyek yang diketahui, dilihat dari
sisi ia dapat dibatasi, sehingga sebagian besar para ahli ilmu
kalam berpendapat, bahwa cara itu tidak dapat dikatakan
terbatas atau tidak. Lalu bagaimana dengan Ilmu Sang Maha
Pencipta SWT?.
Sebab Ilmu Allah bukan dari sisi sifat baru ('aradl) atau
jauhar. Maka bagaimanapun persoalannya, istilah terbatas atau
tidak adalah bila dikaitkan dengan obyek yang diketahui dan
tidak dikaitkan dengan Ilmu. Hal itu tidak mengurangi
Kekuasaan Allah, dan juga tidak dapat dikatakan bahwa Dia
tidak kuasa".