Iman Kepada Allah (Tauhid dan Tanzih)
Iman kepada Allah SWT memiliki tingkatan dan cara yang
berbeda-beda. Tauhid muncul sebagai penetralisir dari
penyimpangan yang mungkin terjadi.
1. Dalil-Dalil Tentang Iman Kepada Allah
Firman Allah SWT:
Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah,
Rasul-Nya (Muhammad SAW), kitab yang diturunkan kepada
Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya.
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka
sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat. QS. an-Nisaa' (4): 136.
Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain
Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. QS. al-Baqarah (2):
163.
Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup
tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak
tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan
di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di
hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa
yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka,
sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang
ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya
meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak
berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS.
al-Baqarah (2): 255.
Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia,
yang mengetahui perkara yang tersembunyi (gaib) dan yang
terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah,
tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang
sejahtera yang memelihara, yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia,
Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari segala
sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang
menjadikan, yang menciptakan, yang memberi rupa, yang
mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi langit
mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras
tuntutan-Nya, lagi Maha Bijaksana. QS. al-Hasyr (59): 22-24
Dalam Surat Al-Ikhlash, yang mempunyai arti:
"Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah
tempat bergantung segala makhluk dan tempat memohon segala
hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan
dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia."
QS. al-Ikhlash (112): 1-4.
Sabda RasululIah SAW:
Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak
memeluk Islam): Saya telah beriman akan Allah; kemudian
berlaku luruslah kamu. (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).
Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari
kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha
illallah. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).
Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu,
pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah
memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.
(HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12.
2. Pengertian Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah ialah:
a. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah;
b. Membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam
perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun
dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya;
c. Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan
segala sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan
suci pula dari menyerupai segala yang baharu (makhluk).
Demikianlah pengertian iman akan Allah, yang masing-masing
diuraikan dalam pasal-pasal yang akan datang.
Makrifat
Perlu dijelaskan lebih dahulu, bahwa membenarkan dalam
pengertian iman seperti yang tersebut di atas, ialah suatu
pengakuan yang didasarkan kepada makrifat. Karena itu perlulah
kiranya diketahui dahulu akan arti dan kedudukan makrifat itu.
Makrifat ialah: "Mengenal Allah Tuhan seru sekalian alam"
untuk mengenal Allah, ialah dengan memperhatikan segala
makhluk-Nya dan memperhatikan segala jenis kejadian dalam alam
ini. Sesungguhnya segala yang diciptakan Allah, semuanya
menunjukkan akan "adanya Allah". memakrifati Allah, maka Dia
telah menganugerahkan akal dan pikiran. Akal dan pikiran itu
adalah alat yang penting untuk memakrifati Allah, Zat yang
Maha Suci, Zat yang tiada bersekutu dan tiada yang serupa.
Dengan memakrifati-Nya tumbuhlah keimanan dan keislaman.
Makrifat itulah menumbuhkan cinta, takut dan harap.
Menumbuhkan khudu' dan khusyuk didalam jiwa manusia. Karena
itulah makrifat dijadikan sebagai pangkal kewajiban seperti
yang ditetapkan oleh para ahli ilmu Agama. Semuanya
menetapkan: "Awwaluddini, ma'rifatullah permulaan agama, ialah
mengenal Allah". Dari kesimpulan inilah pengarang az-Zubad
merangkumkan syairnya yang berbunyi:
Permulaan kewajiban manusia, ialah mengenal akan Allah dengan
keyakinan yang teguh.
Dalam pada itu, harus pula diketahui, bahwa makrifat yang
diwajibkan itu, ialah mengenali sifat-sifat-Nya dan
nama-nama-Nya yang dikenal dengan al-Asmaul Husna (nama-nama
yang indah lagi baik). Adapun mengetahui hakikat Zat-Nya,
tidak dibenarkan, sebab akal pikiran tidak mampu mengetahui
Zat Tuhan. Abul Baqa al-'Ukbary dalam Kulliyiat-nya menulis:
"ada dua martabat Islam: (l) di bawah iman, yaitu mengaku
(mengikrarkan) dengan lisan, walaupun hati tidak mengakuinya;
dan (2) di atas iman, yaitu mengaku dengan lidah mempercayai
dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota".
Sebagian besar ulama Hanafiyah dan ahli hadits menetapkan
bahwa iman dan Islam hanya satu. Akan tetapi Abul Hasan
al-Asy'ari mengatakan: Iman dan Islam itu berlainan".
Abu Manshur al-Maturidi berpendapat, bahwa: "Islam itu
mengetahui dengan yakin akan adanya Allah, dengan tidak
meng-kaifiyat-kan-Nya dengan sesuatu kaifiyat, dengan tidak
menyerupakan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya.
Tempatnya yang tersebut ini, ialah dalam hati. Iman ialah
mempercayai (mengetahui) akan ketuhanan-Nya dan tempatnya
ialah di dalam dada (hati). Makrifat ialah mengetahui Allah
dan akan segala sifat-Nya. Tempatnya ialah di dalam lubuk hati
(fuad). Tauhid ialah mengetahui (meyakini) Allah dengan
keesaan-Nya. Tempatnya ialah di dalam lubuk hati dan itulah
yang dinamakan rahasia (sir).
Inilah empat ikatan, yakni: lslam, iman, makrifat, dan tauhid
yang bukan satu dan bukan pula berlainan. Apabila
keempat-empatnya bersatu, maka tegaklah Agama.
3. Cara Mengakui Ada-Nya Allah
Mengakui ada-Nya Allah, ialah: "Mengakui bahwa alam ini
mempunyai Tuhan yang wajib wujud (ada-Nya), yang qadim azali,
yang baqi (kekal), yang tidak serupa dengan segala yang
baharu. Dialah yang menjadikan alam semesta dan tidaklah
sekali-kali alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa
diciptakan oleh yang wajib wujud-Nya itu".
Demikianlah ringkasan cara mengetahui akan ada-Nya Allah, Sang
Maha Pencipta dan Maha Pengendali alam yang sangat luas dan
beraneka ragam ini.
4. Pengertian Ilmu Tauhid
Ada beberapa ta'rif ilmu tauhid yang diberikan oleh para
ulama. Di bawah ini disebutkan beberapa diantaranya yang
dipandang tepat dengan yang dimaksud.
Pertama: Ilmu tauhid, ialah "ilmu yang membahas dan
melengkapkan segala hujjah, terhadap keimanan, berdasarkan
dalil-dalil akal serta menolak dan menangkis segala paham ahli
bid'ah yang keliru, yang menyimpang dari jalan yang lurus".
Kedua: Ilmu tauhid, ialah ilmu yang di dalamnya dibahas:
[1] Tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya yang wajib
di-itsbat-kan bagi-Nya, sifat-sifat yang harus (mumkin)
bagi-Nya dan sifat-sifat yang wajib ditolak daripada-Nya.
[2] Tentang kerasulan rasul-rasul untuk membuktikan dan
menetapkan kerasulannya; tentang sifat-sifat yang wajib
baginya; sifat-sifat yang mumkin dan tentang sifat-sifat yang
mustahil baginya.
Ta'rif pertama, memasukkan segala soal keimanan, baik mengenai
ketuhanan, kerasulan, maupun mengenai soal-soal gaib yang
lain, seperti soal malaikat dan akhirat. Tegasnya, melengkapi
Ilahiyat, (soal-soal ketuhanan), nubuwwat (kenabian, kitab,
malaikat) dan Sam'iyat (soal-soal keakhiratan, alam gaib).
Ta'rif yang kedua mengkhususkan ilmu tauhid dengan soal yang
mengenai ketuhanan dan kerasulan saja.
Dengan berpegang pada ta'rif yang pertama, maka sebahagian
ulama tauhid membahas soal-soal malaikat, soal-soal kitab,
soal-soal kadar, soal-soal akhirat, dan lain-lain yang
berhubungan dengan soal beriman di bagian akhir dari
kitab-kitab mereka.
Ulama yang berpegang pada ta'rif yang kedua,
hanya membahas soal-soal yang mengenai ketuhanan dan kerasulan saja.
4.1. Perkembangan Ilmu Tauhid Dalam Sejarah Dan Cara Al-Qur'an
Membicarakannya
Ilmu yang membahas dasar-dasar iman kepada Allah dan Rasul,
telah sangat tua umumnya. Di setiap umat sejak zaman purba,
ada ulamanya yang membahas ilmu ini. Cuma, mereka dahulu tidak
mendasarkan penerangan-penerangan yang mereka ajarkan, kepada
alasan-alasan akal; bahkan mereka kurang sekali mendasarkan
kepercayaan kepada hukum dan karakter alam.
Al-Qur'an yang didatangkan untuk menyempurnakan segala yang
masih kurang, segala yang belum sempurna, memakai cara dan
sistem berpadanan dengan perkembangan akal dan kemajuan ilmu.
Al-Qur'an menerangkan iman dengan mengemukakan dalil serta
membantah kepercayaan yang salah dengan memberikan
alasan-alasan yang membuktikan kesalahannya. Al-Qur'an
menghadapkan pembicaraannya kepada akal serta membangkitkan
dari tidurnya dan membangunkan pikiran dengan meminta pula
supaya ahli-ahli akal itu memperhatikan keadaan alam. Maka
al-Qur'an-lah akal bersaudara kembar dengan iman.
Memang diakui oleh ulama-ulama Islam, bahwa diantara
"ketetapan agama", ada yang tidak dapat diitikadkan (diterima
kebenarannya) kalau bukan karena akal menetapkannya, seperti:
mengetahui (meyakini) ada-Nya Allah, qudrat-Nya, ilmu-Nya dan
seperti membenarkan kerasulan seseorang rasul. Demikian juga
mereka bermufakat menetapkan, bahwa mungkin agama mendatangkan
sesuatu yang belum dapat dipahami akal. Akan tetapi, mungkin
agama mendatangkan yang mustahil pada akal.
Al-Qur'an mensifatkan Tuhan dengan berbagai sifat yang
terdapat namanya pada manusia, seperti: qudrat, ikhtiyar,
sama', dan bashar. karena al-Qur'an menghargai akal dan
membenarkan hukum akal, maka terbukalah pintu nadhar
(penyelidikan) yang lebar bagi ahli-ahli akal (ahli-ahli
nadhar) itu dalam menetapkan apa yang dimaksud oleh al-Qur'an
dengan sifat-sifat itu. Pintu nadhar ini membawa kepada
berwujud berbagai rupa paham diantara para ahli akal atau
nadhar. Perselisihan yang terjadi karena berlainan nadhar ini,
dibenarkan al-Qur'an asal saja tidak sampai kepada meniadakan
sifat-sifat Tuhan, seperti yang diperbuat oleh golongan
Mu'aththilah dan tidak sampai kepada menserupakan sifat-sifat
Tuhan dengan sifat-sifat makhluk, sebagai yang dilakukan oleh
golongan Musyabbihah.
Para ulama salah mensifatkan tuhan dengan sifat-sifat yang
tuhan sifatkan diri-Nya dengan tidak meniadakan-Nya, tidak
menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tidak menakwilkannya. Para
mutakalimin khalaf mensifatkan Tuhan dengan cara menakwilkan
beberapa sifat yang menurut pendapat mereka perlu ditakwilkan.
Golongan mutakalimin khalaf membantah ta'thil (meniadakan
sifat Tuhan) dan membantah tamsil (menyerupakan sifat Tuhan
dengan sifat rnakhluk).
Ringkasnya, para salaf beritikad sepanjang yang dikehendaki
oleh lafadh. tetapi dengan mensucikan Allah dari serupa dengan
makhluk.
4.2. Kedudukan Nadhar Dalam Islam
Dalam kitab Hawasyil Isyarat disebutkan, bahwa nadhar itu
ialah menggunakan akal di sekitar masalah yang dapat dijangkau
oleh akal (ma'qulat).
Para filosof bermufakat, bahwa nadhar itu hukum yang digunakan
dalam mengetahui dalil. Alasan yang menegaskan bahwa nadhar
ini sah dan menghasilkan keyakinan, ialah bahwa dalam alam ini
terdapat kebenaran dan kebatalan. Manusia juga terbagi atas
dua macam: Ahli hak dan ahli batal. Tidak dapat diketahui mana
yang hak dan mana yang batal. kalau bukan dengan nadhar.
Dengan demikian maka fungsi nadhar (penelitian) ialah untuk
menjelaskan hal-hal yang gaib agar dapat dicerna oleh akal
disamping menentukan mana yang benar diantara dua pendapat
yang berbeda. Melalui nadhar, manusia bisa sampai pada
pengetahuan yang meyakinkan. Untuk mengetahui mana yang hak
dan mana yang batal. mana yang kufur dan mana yang iman,
demikian pula untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya lebih jelas
haruslah melalui nadhar. Karena itu, bertaklid buta. Tidak mau
lagi melakukan nadhar adalah keliru sesat dan menyesatkan.
Dalam al-Qur'an cukup banyak dijumpai ayat-ayat yang
memerintahkan untuk melakukan nadhar. Diantara-nya ialah:
Katakanlah ya Muhammad: "Lihatlah apa yang di langit dan di
bumi; dan tidak berguna tanda-tanda dan peringatan-peringatan
kepada kaum yang tidak beriman". (QS. Yunus (l0): 10l).
Mengapakah mereka tidak melihat kepada alam (malakut) langit
dan bumi dan kepada apa yang Allah jadikan?. (QS. al-A'raf
(7): 185).
Maka ambil ibaratlah wahai ahli akal. (QS. al-Hasyr (59): 2).
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim bumi malakut
(langit) dan bumi. (QS. al-An'am (6): 75).
Ayat-ayat tersebut diatas adalah nash yang tegas yang
mendorong untuk melakukan nadhar terhadap segala maujud, dan
menjadi nash yang tegas pula yang mewajibkan kita memakai
qiyas 'aqli atau qiyas manthiqi dan sya'i. Ayat yang terakhir
menerangkan, bahwa Allah telah nadhar kepada Ibrahim as.
4.3. Kedudukan Akal Dalam Pandangan Islam
Dalam kitab Hawasyil-Isyarat diterangkan bahwa akal itu, ialah
tenaga jiwa untuk memahami mujarradat (sesuatu yang tidak
dapat diraba atau dirasa dengan pancaindera). Kekuatan jiwa
yang mempersiapkan untuk memikir (berusaha), dinamai dzihin.
Gerakan jiwa untuk memikir sesuatu agar diperoleh apa yang
dimaksudkan, dinamai fikir.
Tersebut dalam suatu kitab falsafah: "Akal itu suatu kekuatan
untuk mengetahui makna mujarradat, makna yang diperoleh dari
menyelidiki dan rupa-rupa benda". memperhatikan rupa-rupa
benda". Al-Mawardi dalam A'lamun-Nubuwwah menulis: "Akal itu
suatu tenaga yang memberi faedah bagi kita mengetahui segala
yang menjadi kepastiannya". Ada pula yang mengatakan: "Akal
itu kekuatan yang membedakan yang hak dengan yang batal".
Al-Mawardi membagi akal kepada: gharizi dan kasbi. Gharizi
adalah pokok akal, sedang kasbi adalah cabang yang tumbuh
daripadanya: itulah akal yang dengannya berpaut dan bergantung
taklif dan beribadat. Adapun akal kasbi (akal muktasab), ialah
akal yang digunakan untuk berijtihad dan menjalankan nadhar.
Akal ini tidak dapat terlepas dari akal gharizi, sedang akal
gharizi mungkin terlepas dari akal ini.
4.4. Martabat Akal Dalam Memahami Hakikat
Para hukama berpendapat bahwa manusia memahami hakikat dengan
jalan: [1] dengan pancaindera, dalam hal ini manusia sama
dengan hewan; dan [2] dengan akal (rasio).
Mengetahui sesuatu dengan akal hanya tertentu bagi manusia.
Dengan akallah manusia berbeda dari binatang.
Orang yang telah biasa memperhatikan soal-soal yang ma'qulat
(yang diperoleh melalui akal) nyata kepadanya kemuliaan dan
keutamaan yang diketahuinya itu. Baginya terang pula bahwa
yang diketahui melalui indera pemandangan akal sama dengan
sesuatu yang masib kabur, dibanding sesuatu yang telah dapat
dipastikan baiknya melalui akal. Inilah sebabnya Al-Qur'an
dalam seruannya kepada mengakui ada-Nya Allah dari
keesaan-Nya, membangkitkan akal dari tidurnya. Seruan yang
begini, tidak dilakukan oleh umat-umat yang dahulu. sebagai
yang sudah dibayangkan sebelum ini.
4.5. Bukti Kelebihan Dan Keutamaan Akal Atas Pancaindera
Para hukama telah membuktikan, bahwa akal lebih mulia dari
pancaindera. Apa yang diperoleh akal lebih kuat dari yang
didapati pancaindera.
Alasannya:
[1] Pancaindera hanya dapat merasa, melihat dan membaui.
[2] Akal dapat menjelaskan tentang adanya Zat Tuhan.
sifat-sifat-Nya dan berbagai soal yang hanya bisa diperoleh
melalui akal, dan berbagai macam pengetahuan hasil nadhar.
[3] Akal dapat sampai pada hakikat, sedang pancaindera hanya
memperoleh yang lahir saja, yaitu yang terasa saja.
[4] Akal tidak berkesudahan, sedang pancaindera adalah
berkesudaban (hiss).
4.6. Akal Pokok Pengetahuan
Al-Mawardi berpendapat, bahwa dalil itu, ialah sesuatu yang
menyampaikan kepada meyakini mad-lul-nya. Dalil-dalil diyakini
dengan jalan akal dan mad-lul-nya diyakini dengan jalan dalil.
Tegasnya, akal itu menyampaikan kepada dalil; dia sendiri
bukan dalil. Karena akal itu pokok segala yang diyakini, baik
dalil maupun madlul. Mengingat hal ini dapatlah dikatakan,
akal adalah pokok pengetahuan (al-'aqlu ummul 'ulum). Ilmu
yang diperoleh daripadanya ialah pembeda kebenaran dari
kebatalan; yang shahih yang fasid; yang mumkin dari yang
mustahil.
Ilmu-ilmu yang diperoleh melalui akal, ada dua macam:
Idthirari dan Iktisabi.
1. Ilmu Idthirari, ialah ilmu yang diperoleh dengan mudah,
tidak perlu melakukan nadhar yang mendalam. Ilmu ini terbagi
dua: [1] yang terang dirasakan; dan [2] berita-berita
mutawatir.
Ilmu yang dirasakan atau yang diperoleh dengan hiss, datang
sesudah akal, dan ilmu khabar mendahului akal.
Ilmu Idthirari ini, tidak memerlukan nadhar dan istidal;
karena mudah diketahui. Khawwash dan 'awwam dapat
mengetahuinya, ilmu yang diperoleh dengan jalan ini, tidak ada
yang mengingkarinya.
2. Ilmu Iktisabi, ialah ilmu yang diperoleh dengan jalan
nadhar dan istidal. Dia tidak mudah diperoleh. Ilmu inilah
yang memerlukan dalil atau dimintakan dalilnya.
Ilmu Iktisabi ini terbagi dua juga:
- yang ditetapkan oleh akal (berdasarkan ketetapan-ketetapan
akal).
- yang ditetapkan oleh hukum-hukum pendengaran (yang diterima
dari syara').
Hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan akal terbagi dua
pertama, yang diketahui karena mengambil dalil dengan tidak
berhajat kepada dalil akal (nadhar); kedua, yang diketahui
karena mengambil dalil dengan dalil-dalil akal.
Yang diketahui dengan tidak perlu kepada dalil akal (nadhar)
ialah yang tidak boleh ada lawannya, seperti keesaan Allah.
Dengan sendirinya akal dengan mudah mengetahui keesaan Tuhan
itu. Yang diketahui dengan memerlukan dalil akal, ialah: yang
boleh ada lawannya, seperti seseorang nabi mendakwakan
kenabiannya. Ringkasnya mengetahui atau meyakini keesaan Allah
tidak memerlukan akan akal; sebab dengan mudah akal dapat
mengetahuinya. Adapun meyakini kerasulan seseorang rasul,
memerlukan dalil akal.
Ketetapan-ketetapan yang berdasarkan hukum pendengaran,
diterima dari Shahibisy Syari'ah, sedang akal disyaratkan
dalam melazimi ketetapan-ketetapan itu, walaupun pendengaran
tidak disyaratkan dalam soal-soal yang ditetapkan akal
semata-mata.
Hukum-hukum yang ditetapkan oleh pendengaran ada dua macam:
yakni: Ta'abbud dan Indzar. Ta'abbud mencakup larangan dan
suruhan. Indzar, mencakup wa'ad dan wa'id.
4.7. Jalan Mengetahui ada-Nya Allah
Abu Haiyan mengatakan: Mengetahui ada-Nya Allah adalah daruri,
jika ditinjau dari sudut akal, dan nadari dari sudut hiss
pancaindera.
Ilmu adakala dituntut melalui akal, dalam soal-soal yang dapat
dipikirkan (ma'qulat), adakala dituntut dengan hiss
(pancaindera) dalam soal-soal yang dirasakan. Seseorang
manusia bisa memikir, bahwa mengetahui ada-Nya Allah adalah
suatu iktisab (hal yang diperoleh dengan jalan istidlal):
karena hiss itu mencari-cari dan membolak-balikkan masalah
dengan pertolongan akal. Dia dapat pula memikiri, bahwa
mengetahui ada-Nya Allah, daruri; karena akal yang sejahtera
menggerakkan manusia kepada mengakui ada-Nya Allah dan
menyalahkan akal mengingkari-Nya.
Al-Farabi dalam al-Fushush (fash yang empat belas, menulis:
"Anda dapat memperhatikan alam makhluk, kalau anda lihat
tanda-tanda pembuatan. Tetapi juga anda dapat meninjau alam
mahad (alam yang terlepas dari kebendaan), lalu anda yakini,
bahwa tidak boleh tidak ada-Nya Zat. Dan dapat pula anda
mengetahui betapa seharusnya sifat-sifat yang ada pada Zat
itu. Kalau anda memandang alam maddah, berarti anda naik dan
kalau anda memperhatikan alam mahad, berarti anda turun".